Sabtu, 10 Mei 2008

CINTA TIDAK MENYADARI KEDALAMANNYA, SAMPAI ADA SAAT PERPISAHAN”

KAHLIL GIBRAN

by Susanti TdC

Jujur, tak pernah terbesit dalam otakku kalau aku akan “terdampar” di SMA N 1 Pemalang. Impianku adalah pergi sekolah yang jauh, ke luar kota, melupakan segala kepenatanku terhadap masalah pribadi.

Meski tanpa restu orang tua, aku nekat mendaftar ke sekolah impianku. Tapi ternyata aku gagal. Saat itu aku benar-benar merasa terpukul, terpuruk. Kecewa, sedih, marah, semua jadi satu. Dan akhirnya dengan setengah hati kuturuti keinginan orang tuaku untuk sekolah di SMA N 1 Pemalang.

Aku mencoba ikhlas menjalani hari-hariku di sekolahku, mencoba melupakan kekecewaanku, dan mencoba menemukan semangat hidupku yang baru. Tapi hal itu tak kutemukan. Aku bahkan mulai mengabaikan nilai-nilaiku, tak ada niatan serius untuk belajar, apalagi bersaing untuk mendapatkan peringkat.

Akhirnya sampai di penghujung kelas X. Dilema menghampiriku. Aku bingung memilih jurusan. Meskipun aku dinyatakan masuk jurusan PSIA, tapi entah kenapa aku justru condong pada jurusan PSIS, menyingkirkan jurusan favoritku, bahasa. Aku tak pernah tahu pasti alasan kenapa aku memilih jurusan PSIS, jurusan yang dianggap sebagian orang “rendah”, marginal. Sedikit rasa sesal hadir di hatiku. Terlebih ketika aku ditempatkan di kelas XII PSIS 1, kelas selebritis, kelas yang muridnya paling mbeler, paling ribut, paling sering dimarahi guru, bahkan (mungkin) paling disebeli kelas lain. Sempat terpikir olehku untuk pindah ke kelas lain, tapi kembali nuraniku melarang. Aku coba yakinkan diriku, “Ketika Tuhan menciptakanku, Dia juga menciptakan hari-hari yang indah untukku”.

Aku tak pernah menyangka hari-hari yang indah itu justru aku temukan di kelasku sekarang, XII PSIS 1. Kelas yang mengajarkan dan memberiku banyak hal. Tawa dan canda. Kelas yang menjadi top rank di BP pada awal tahun ajaran 2006/2007 karena banyaknya kasus. Aku ingat kasus pertama yang terjadi di S1, judi kecil-kecilan yang dipelopori ketua kelas. Mungkin orang-orang di luar S1 tak bisa merasakan keindahan keluarga ini, tapi aku dapatkan semuanya di sini. Teman, sahabat, dan keluarga.

Suatu hari nanti aku pasti akan merasakan kerinduanku pada S1. Rindu saat dimarahi guru karena ribut, rindu pada keusil-keusilan anak cowok S1, rindu saat jam kosong main ABC, rindu berebut makanan, rindu teriakan kehilangan alat tulis, rindu panggilan nama ayah, rindu perayaan ulang tahun di kolam ikan depan kelas, bahkan mungkin rindu saat Donny, si “Tukang Kentut”, meluncurkan meriamnya, hal yang dulu kukira hanya ada di sinetron “Juragan Jengkol”. Terlalu banyak hal indah yang aku dapatkan di kelas ini, terutama semangat berjuangku yang kembali tumbuh.

Sekaligus aku berani berkata: aku pasti akan menyesal jika tidak sekolah di sini, dan akan lebih menyesal jika aku pindah kelas. Terima kasih S1. Terima kasih telah mengajarkanku “don’t judge the book by cover”. Aku percaya kita sedang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Semoga juga keinginan kita bisa terwujud: kemping dan berdoa di gunung, dan reuni sepuluh tahun mendatang untuk menonton bersama episode-episode kita yang lalu. Mungkin hari-hari itu akan berlalu, tapi cinta dan kenangan itu akan selalu ada.

MOTTO XII PSIS 1 2007/2008

LULUS”

PERSAHABATAN

Kahlil Gibran

Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?..Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.

“Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.”

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

“Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan. “

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.